Saturday, June 21, 2014

Weaning With Love

Selamat siaaang...

Sebelumnya saya mau minta maaf kalau postingan saya ngga terorganisir dg baik.. idealnya untuk blog yang membahas aoal anak, postingannya terarah dan sesuai tahapan tumbuh kembang anak, misalkan hari ini mpasi - trus lanjut weaning - lanjut lagi toilet training dst dst Lha ini habis bahas apa lanjut ke mana alias ga nyambung.. maklum lah ya golongan darah O jalan pikirannya suka loncat-loncat *asli ngasal :D

Postingan kali ini pun terlintas ketika lagi bengong nyusuin baby M (nah kaaan berita melahirkannya aja blm diposting tau2 flashback cerita weaning kknya) hehehhe.. cerita lahirannya menyusul yaaa

Dari awal menyusui, alhamdulillah tidak ada kesulitan sama sekali sehingga saya bertekad awal yg indah ini harus diakhiri dengan indah pula. Ga pake tipu-tipu, no pait-pait, ga pengen anak menangis kejer karena dipisah paksa dr nenen, jadi saya ga menarget harus weaning di usia berapa. Mengalir aja mengikuti tahapan yang ada (ehm)

Dimulai dari usia setahun lebih dikit, ketika dikenalkan dg UHT langsung coblos dr kemasannya.. saya harus meninggalkan Farhan untuk urusan pekerjaan part time (full time nya kan sebagai emak rumahan ya ;D) 1-2x seminggu selama 3 - 7 jam Karena tidak terbiasa memerah asi, percobaan perah asi di usia 1th gagal total, mungkin karena belum paham betul caranya, jadi ketika ditinggal, Farhan minumnya air putih - sari buah - dan sedikit susu uht dari gelas atau sedotan. Berjalan lancar, selama ditinggal Farhan tidak rewel dan bisa tidur siang dg nyenyak walaupun harus diayun dalam gendongan terlebih dahulu Oya, sengaja saya tidak mengenalkan botol dot karena konon menyapih anak dr botol dot akan jauh lebih susah, dan saya percaya, hehehehe..

Di usia ini, saya tidak lagi menjadikan nenen sebagai senjata untuk menenangkan Farhan. Misalkan saat dia jatuh dan menangis, daripada langsung menyodorkan asi, saya lebih memilih untuk memeluknya atau mengusap-usap bagian yang sakit atau meniup-niupnya

Selanjutnya di usia 1.5th, Farhan sudah bisa mengawali tidur siang tanpa nenen, mostly ketika saya sibuk di dapur dan Farhan main bersama pengasuhnya, tau-tau ketiduran sendiri, walaupun masih minta nenen di tengah tidurnya, tetap saya berikan. Untuk tidur malam, tetap harus nenen dulu dan terbangun 2-3x di tengah malam untuk nenen

Di usia 1.75th *tanggung amat yak.. :D Saya mulai menerapkan area nenen, jd nenen hanya diberikan di kamar aja, kalau lagi asik main tiba2 minta ya ke kamar dulu (kebetulan sy tidak membiasakan Farhan main di kamar tidur) dan saya ngga pernah nawarin nenen lagi, kalau Farhan minta baru saya berikan. Tujuannya adalah latihan selama mungkin berjauhan dengan nenen Setiap malam saya selalu bilang, nanti kalau Farhan sudah ulang tahun ke dua, tiup lilin, nenen ditutup yaa, sudah besar minumnya dari gelas.. dan kebanyakan jawabnya adalah mamau! (Maksudnya bilang ngga mau) mamau 2th, mau enen aja.. :D Dalam hati saya jawab, terserah sayang, selama kamu mau aja, hihihihi

Di usia 23 bulan, mendadak nipple saya lecet parah, luka terbuka dan perihnya Subhanallah.. (T-T) entah kenapa, padahal Farhan ngga pernah sekalipun menggigit Saya oles asi dan dibiarkan mengering yang katanya ampuh mengobati lecet, doesn't work at all.. kamilosan + minyak zaitun juga tidak membantu sama sekali, butuh waktu 3 hari untuk meredakan nyerinya, tp sekali dinenen langsung luka lagi terbuka.. hampir setiap Farhan minta nenen saya menggigit bibir bahkan sampai menangis saking sakitnya, dan akhirnya 2 minggu kemudian saya menyerah :( Dalam hati saya tidak rela kalau harus menyapih sekarang, tp luka ini begitu menyakitkan.. Diskusi dg suami dan beliau setuju2 saja karena toh hanya tinggal beberapa hari lagi menuju 2th jadi Farhan sudah cukup mendapatkan haknya

Malam pertama weaning, saya mantapkan hati, saya katakan "Farhan, nenen mama sakit, Farhan minumnya dari gelas yaa" (sambil menyodorkan segelas air putih) Farhan merengek sebentar tapi akhirnya mau lanjut main (amazing! Hahahaha) saya tunggu sampai dia benar2 mengantuk. Dan di malam pertama, Farhan tidur pukul 1 dini hari :D Di tengah tidurnya dia minta nenen, saya katakan lagi "Farhan, nenen mama sakit, Farhan minumnya dari gelas yaa" tetap sambil menyodorkan air putih (bukan susu karena saya khawatir sisa susu ketika tidur akan merusak giginya) Di luar dugaan, walaupun sambil merengek sedikit, Farhan menerima gelas itu, minum, dan lanjut tidur dengan di mpok2 pantatnya (yesss... awal yg baik)

Malam kedua berjalan lebih baik, tidur jam 12 dengan ritual dan jawaban yang sama Malam ketiga jam 11, malam keempat jam 10, sampai sekarang ternyata baru bisa tidur jam 10 walaupun sudah masuk kamar dari jam 8 Di malam ketujuh, tanya jawab berakhir, Farhan tidak pernah meminta nenen lagi dan berhasil tidur lelap sepanjang malam tanpa terbangun

Alhamdulillaah.. good job boy!

Farhan berhasil melewati satu tahap lagi menuju dewasa.. Jadilah anak sehat, pintar dan mandiri ya nak.. Keinginan saya untuk weaning with love tercapai dengan baik (walaupun belum 2th melainkan hampiiir :D)

Kami bisa mengakhiri dan mengenang masa menyusui yang indah dengan senyuman, bukan dengan drama atau tangisan pilu, Alhamdulillaah.. (♡˙︶˙♡)

Monday, January 6, 2014

Alhamdulillah, Farhan mau punya adik :'D

Assalammualaikum semuaaa

Saya bukanlah tipikal orang yang betah berlama-lama duduk manis di depan laptop atau komputer. Salah satu alasan klise khas emak-emak, ketika asik berkonsentrasi tinggi lalu bocah datang. buyar. Padahal sy butuh waktu lama untuk membangun konsentrasi dan mood dr awal, hmmm untungnya bukan pekerja kantoran ya, bs tiap hr disemprot bos kalo beginihhh :')

Secercah harapan muncul saat saya (baru) menemukan aplikasi blogger for android di gadget *hihihihi udik bener yah.. Sy suka melakukan semuanya dalam genggaman (baca: sambil tiduran, guling2an, duduk2 santai dll) drpd harus benar2 secara formal duduk tegak di depan laptop mengetik, mengecek socmed ataupun mengurus toko online. Ga bagus ya? Tp drpd diusik bocah *ngeles :D
Yaaa intinya dg adanya blogger di henpon ini semoga sy jd makin rajin eksis di blogger deh, ahahahahaha
Dan harap maklum kalau nanti ada singkatan2 karena kalau mengetik dr hp pasti kebiasaannya nulis bahasa chatting, biar hemat karakter :p

Maaf kepanjangan pembukaan

Kali ini sy ingin mengabarkan soal kehamilan, alhamdulillaaaah...
Sy baru siap hamil lagi setelah Farhan berhasil weaning with love dr asi selama 2th dan lulus toilet training dan sy sudah merasa cukup istirahat dr rutinitas mengurus baby yg melelahkan sekaligus menyenangkan..

Minta doanya yaaa agar kehamilan kali ini berjalan lancar dan sehat sampai nanti melahirkan dg selamat dan sempurna آَمِيّـٍـِـنْ... آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِن.

Saturday, January 5, 2013

Ventrikulomegali n almost 2year ^^


Waaw.. Ga kerasa lama juga ya saya ga nulis blog.. Maklum lagi bingung bongkar pasang art alias prt alias rewang (bhs jawa) hehehehe.. Next time kita bahas di lain kesempatan *wink

Mengenai cerita pembesaran ventrikel di kepala Farhan, saya mendapat beberapa respon dari ortu yg sedang mengalami hal serupa. Saya tahu ini sangat berat, thats why saya membagi pengalaman via blog.. Ga ada maksud apa2 selain saya tau dulu betapa frustasinya saya tidak belum menemukan literatur yg melegakan, dan berpikir betapa senangnya kalau ada yg bisa diajak sharing pengalaman berhadapan dg masalah seperti ini :) dan saya senang dapat kenalan baru yg menghubungi saya baik via socmed maupun bbm, ada yg dari luar negeri juga loh..

Nah karena Farhan sudah hampir 2 tahun, saya memutuskan untuk kontrol sekali lagi, make sure bahwa pelebaran ventrikel di kepalanya bukan lagi ancaman. Atas rekomendasi seorang sahabat, saya memutuskan konsul dg dr.Hardiono Pusponegoro, spesialis syaraf anak dan kabarnya famous twitterland (maklum nih bukan anak gaul twitter, hahahaha)

Setelah waitinglist selama 2 minggu (kayaknya kurang hoki nih, karena sahabat saya ga pakai acara waiting list, langsung bikin appointment pada hari yg sama) bertemulah saya dg dokter yg akrab disapa opa (kakek) ini..

First impression, beliau terlihat sabar n sudah biasa handle balita (ya iyalaah, kan dokter spesialis yg udh pro yaa) terlihat sekali beda levelnya dengan dokter anak biasa *maaf yaaa yg merasa :)
Saya pun cerita permasalahan bla bla bla dan opa segera melakukan beberapa tes.. Yg pertama ukur lingkar kepala, cek ubun2 apa sudah menutup, pukul2 ringan beberapa persendian Farhan.
Selanjutnya Farhan diminta memasang puzzle sederhana, menyusun kubus, menunjuk gambar, menyebutkan gambar, mengambil bola, menyebut anggota badan n wajah, dll

Singkatnya, alhamdulillah opa sudah tidak mempermasalahkan ventrikel kepala karena ubun2 sudah menutup dan lingkar kepala normal, berat badan dan tinggi badan juga ga ada masalah (14kg 89cm) insyaAllah tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jadi Farhan tidak perlu melakukan MRI..

Tapiiii, untuk tes bicara, untuk usianya yg saat itu 23 bulan, Farhan seharusnya sudah bisa mengucapkan kalimat sederhana, minimal 2 kata. Hmmmm sebenarnya Farhan sudah bisa, seperti mama ayah, tii maaam (tri makan - minta makan sama mbaknya) tapi waktu di depan opa, Farhan ga mau bicara, jadi dianggap belum bisa. Maka dari itu opa menyuruh saya baca buku yg berjudul "it takes two to talk"
Isinya mengajarkan orang dewasa bagaimana cara merangsang anak bicara, dan sebenarnya sebagian besar isi buku itu sudah saya terapkan lho, tinggal tunggu waktu aja kayaknya *ngelesss

Dan setelah saya bilang hal ini ke Mbak Tri, malah jadinya rumah berisik, jadi dia yg cerewet banget dg maksud ngajarin Farhan ngomong, heheheehehe.. Nggak apa2 lah ya tahan bentar, demi anak *sigh
Nanti kontrol lagi ke opa setelah 4 bulan untuk mengetahui perkembangan bicara Farhan, semoga saat ketemu lagi sudah ceriwis ya naak..
Sehat terus ya sayaaang *kisskiss

Oya ketika saya tanya kira2 kenapa Farhan bisa mengalami ventrikulomegali padahal saya tidak mengalami infeksi tokso, rubella, cmv maupun herpes, opa bilang mungkin karena obat yg dikonsumsi selama hamil. Hmmm memang sih saya pernah minum obat flu di awal kehamilan, tapi itu ketika saya belum tahu hamil karena belum jadwalnya haid jadi belum tau telat apa engga, apa itu pengaruh ya? 

Lebih jelasnya sih nanti mau ditanyakan pada dokter kandungan kalau sudah mau program anak kedua, yaaay ga sabar pengen punya baby lagi deh, doakan saya yaaaa ;) 

Monday, June 11, 2012

Delivery time, the day he was born :')

Pregnancy is fun, tapi rasanya tak sabar menunggu hari kelahiran :)

Pada saat hamil, saya masih kuliah, errr lebih tepatnya menyelesaikan skripsi, dan kehamilan merupakan motivasi terbesar saya untuk ngebut karena saya ga rela ketika baby lahir pikiran saya terbagi dengan skripsi, ehehehe..
Skripsi pulalah yang membuat saya harus bolak balik jakarta-malang, baik naik pesawat maupun KA. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ baby kuat, skripsi pun selesai, dan saya diwisuda pada usia kehamilan 7bulan (з´⌣`ε)

Di jakarta saya hanya berdua suami, keluarga dengan lokasi terdekat adalah tante di bandung, jadi kami putuskan untuk melahirkan di sana

Seminggu sebelum melahirkan, saya sudah "standby" di rumah tante, dg memboyong semua perlengkapan newborn. Saya akan menjalani sc (sectio caesaria a.k.a operasi caesar) terjadwal. Alasannya ada 2, yg pertama adalah suspect ventriculomegaly janin saya (cerita lengkapnya di sini) dan yg kedua adalah saya menderita miopi lumayan tinggi (di atas minus 8, tp lupa angka persisnya ^^). Ventriculomegaly dikhawatirkan membuat kepala janin tidak muat di jalan lahir, dan miopi yg tinggi membuat mata saya  dikhawatirkan terjadi ablatio ketika mengejan, dg resiko terbesar kebutaan :(
Sebenarnya mendekati hari kelahiran, dsog rujukan di bandung *dr. Udin Sabarudin yg benar2 sabar :) menyatakan saya boleh melahirkan (partus) normal, kepala janin normal, dan resiko ablatio bukanlah suatu hal yg mutlak a.k.a bisa saja tidak terjadi walaupun minus saya tinggi
Tapi dari pihak keluarga tidak memberi restu partus normal, terutama suami, katanya kebutaan cukup mengerikan untuk dipertaruhkan :( dan sejujurnya saya jg tidak siap untuk partus normal karna dari awal sudah di"sounding" harus partus sc, jd saya tidak membekali diri dg rajin senam hamil maupun jalan pagi, hehehehe jangan ditiru yaa

Jadwal operasi saya adalah hari jumat, 11 februari 2011. Suami baru berangkat ke bandung tgl 9 malam. Pukul 01.00 dini hari, suami telfon. As usual, saya pikir dia minta dibukakan pagar. Ternyata tidak. Dg suara panik, dia blg mengalami kecelakaan di gerbang tol pasteur dan minta dijemput! Ya Allah, deg-degan tak terkira.
Berdua tante, saya menjemput di lokasi kecelakaan.. اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ  mobil hancur hampir 80% tp الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ suami (dan kucing) selamat..
Keluarga tak henti-henti memberikan semangat.. Dan saya berusaha tak memikirkannya mengingat besok saya harus sudah masuk rumah sakit, yang penting semua selamat, begitu pikir saya

Hari kamis sore, saya di rumah sakit. Sudah menjalani tes darah, jantung dll layaknya operasi besar. Dan malamnya saya tidur sangat nyenyak :)

Hari jumat subuh, saya sudah mulai puasa karena operasi terjadwal setelah shalat jumat. Pukul 12.00 saya masuk ruang operasi. Suami, mami dan tante memberi semangat dan doa sebelumnya, sayang sekali suami tidak diijinkan merekam walaupun kita sudah ready dg handycam

Saya dibaringkan di tengah ruangan dg lampu bundar besar di tengah, persis di film-film :) musik lembut mengalun. Dokter anestesi meminta saya membentuk tubuh bungkuk posisi udang, dan obat bius disuntikkan. Tak lama kemudian bagian ulu hati ke bawah mati rasa. Dokter mulai menyayat. Saya mengamati semua proses dari pantulan kap lampu di atas saya, tidak ada ketakutan. Yang ada cuma rasa tidak sabar bertemu bayi saya, sehatkah dia?

10 menit kemudian, perut saya didorong-dorong, lalu terdengar tangisan bayi. Dokter anestesi di atas kepala saya bilang "selamat ya bu, anaknya laki-laki, sehat" saya tersenyum lalu bertanya "kepalanya bagaimana dok?" tapi tidak ada yg menjawab. Saya juga tidak diijinkan melakukan IMD (inisiasi menyusui dini) karena dokter anak harus segera memeriksa kondisi bayi :( jadi saya menjalani 40menit di ruang operasi, menunggu dokter selesai menutup rahim dan perut saya dg perasaan masih cemas. I haven't seen my baby yet :'(

Keluar dari ruang operasi, saya dipindah ke ruang pemulihan. Sekitar 2 jam saya di sana. Mendadak tubuh menggigil hebat.. Bergetar suara saya memanggil perawat yang bergegas menyuntikkan sesuatu, entah apa. Cukup lama saya menggigil hingga reda dan perlahan bagian tubuh yg mati rasa pulih, nyeri mulai datang. Saya haus sekali. Saya memanggil perawat untuk minta air, tidak diijinkan karena pengaruh bius belum hilang total. Untungnya ada seorang dokter yg baik memberi saya minum, tp berulangkali diingatkan pelan-pelan saja agar tidak muntah.

Keluar dari ruang pemulihan, suami menunggu. Kami segera kembali ke kamar. Saya tanyakan kondisi bayi kami, dia hanya bilang "sehat, nanti adek lihat sendiri yaa" sama sekali tidak menenangkan :)

Di kamar, perut saya lapar sekali. Tidak ada bubur atau apapun disiapkan petugas gizi. Jadi saya minta suami beli nasi goreng, padahal sebagai ahli gizi, saya tahu bahwa post op harusnya saya "hanya" makan bubur halus dulu, tapi lapar mengalahkan segalanya hahahahaha.. Untung tidak muntah :)

Saya segera minta bayi dibawa ke kamar. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ bayi mungil itu ternyata sehat, tak kurang suatu apapun. Dengan berat lahir 3530 gram, panjang 50.3 cm, kami beri nama dia Farhan Muhammad Rafirly

Welcome, Farhan! :)

Malam itu, nyeri di perut terasa hebat.. Suami dengan sabar memenuhi semua kebutuhan saya (っ˘з(˘⌣˘ )  hingga esok paginya perawat mengatakan saya baru boleh menyusui dan membawa bayi sekamar jika saya sudah bisa berjalan. Nyeri luar biasa tak saya rasakan, saya paksa belajar jalan demi cepat menyusui, saya tak rela baby Farhan berlama-lama minum susu kaleng.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ di hari minggu saya sudah lancar berjalan, baby juga langsung pintar menyusu, jadi senin pagi saya sudah bisa pulang
°\(^▿^)/°


Melahirkan itu perjuangan, baik normal maupun operasi, tetap mempertaruhkan nyawa.. Dan untuk hebatnya rasa sakit yang kita rasakan, kita pantas dipanggil ibu ˆ⌣ˆ

Saturday, June 9, 2012

Carseat

Buat saya, carseat itu penting..

Perkenalan saya dg carseat termasuk telat. Farhan baru dikenalkan carseat di usia menjelang 4bulan.
Awalnya saya ragu menggunakan carseat, jadi si ayah juga ikutan tidak yakin. Tapi pikiran berubah setelah melihat carseat ferrari warna merah yg keren *salah motivasi :D
Sekarang di usia 15 bulan, Farhan sudah terbiasa anteng di carseat, malah kalau ga duduk di sana dia bertingkah dan perjalanan jadi ga nyaman. Ternyata carseat banyak manfaatnya, yang sudah saya rasakan antara lain:
1. Lebih safe pastinya, anak duduk dengan seatbelt yang aman, menjaga dari benturan atau terpelanting ketika (amit-amit) ngerem mendadak
2. Lebih nyaman, baik buat anak atau mamanya. Kalau di carseat, Farhan bisa cepet bobo, ga pegel pangku atau menyangga badannya, mama jadi bisa ikutan bobo :D
3. Jadi bisa pergi cuma berdua sama yang nyetir

Dari jenisnya, carseat ada 3 macam, masing-masing ada plus minusnya:
1. Infant carseat, untuk baby dg berat 0-13kg. Posisi tiduran dan ukurannya kecil jadi lebih nyaman untuk baby newborn. Bentuknya mirip keranjang, jadi ketika kita perlu turun dari mobil (ke mall misalnya) sedangkan baby masi bobo, tinggal angkat aja se-carseatnya, tidak perlu membangunkan baby. Bahkan beberapa infant carseat bisa di-attach ke rangka stroller sehingga lebih prak is. Kekurangannya adalah walaupun bisa sampai 13kg (biasanya berat 13kg tercapai umur 1th ke atas) tapi biasanya panjang bayi sudah ga muat di usia menjelang 1th. Jadi maksimal umur 1th sudah perlu ganti carseat yg lebih besar
2. Infant to toddler, bisa dari baby sampai balita 0-18kg. Yang ini lebih awet karena bisa dipakai sampai balita. Untuk baby pemakaiannya dihadapkan membelakangi kemudi dan untuk balita searah kemudi. Tapi bentuknya agak besar walaupun bisa di-reclining tapi posisinya tidak se"tidur" carseat infant. Tampak kurang nyaman untuk bayi kecil.
3. Toodler, buat balita yang lebih besar. Bentuknya hampir mirip jok mobil biasa. Penggunaannya bisa diganti dg booster seat

Farhan sendiri pakai yg no 2. Dg alasan lebih awet n biar ga sayang ganti-ganti carseat *emak perhitungan :D awal-awal kalau kurang nyaman bisa ditambah cushion (semacam bantalan), tapi umumnya carseat tipe 2 ini sudah dilengkapi cushion dan headrest yang bisa dilepas kalo anak sudah lebih besar

usia 4 bulan, carseat membelakangi kemudi. dengan posisi fully recline masih tampak setengah duduk, untuk menatasinya bisa ditambah bantal





Agar carseat berfungsi maksimal dan anak tetap nyaman, ini dia rulesnya:
1. Pastikan carseat terpasang sesuai petunjuk penggunaan. Dikaitkan dengan seatbelt mobil. Carseat yang sudah terpasang dengan baik tidak banyak bergerak saat digoyangkan
2. Jangan pasang carseat di seat samping kemudi. Berbahaya.
3. Untuk bayi, carseat di hadapkan membelakangi arah kemudi. Karena bayi belum bisa menahan berat badannya jika terjadi benturan atau pengereman mendadak. Setelah 1th boleh dipindah arah menghadap searah kemudi
4. Selalu letakkan anak/bayi di carseat dg seatbelt yang terkunci
5. Jangan meletakkan anak/bayi di carseat lebih dari dua jam, untuk menghindari kelelahan otot yang masih lemah
5. Agar anak betah di carseat, alihkan dengan mainan atau camilan, ajak ngobrol atau bernyanyi

Usia 13 bulan, carseat hadap searah kemudi agar tidak bosan :)

Usia 15 bulan, lagi traveling surabaya, mulutnya masih ngunyah :) pinjam carseat sepupunyaa

Well... Have a nice trip! (^-^)

Monday, June 4, 2012

MPASI 1y+: bola-bola nasi

Farhan susaah banget makannya, dari awal mpasi bukan tipe yang hap hap hap gitu
Entah masakan saya yang kurang mantap (˘̩-˘) atau ada faktor lain (tumbuh gigi mungkin)
I'm not good at cooking, tapi prinsip saya mending Farhan makan masakan saya (walaupun seuprit) daripada makan makanan bayi instan. And I'm proudly say: sampai sekarang (15 bulan) Farhan belum "tersentuh" instant food (yeey)
Minimal masakan saya udah pasti bebas pengawet dan tambahan berbahaya, dibuat dengan cinta, bukan mesin, mhohohoho

And, here we have for lunch, one dish meal untuk bocil yang lagi males makan, resep asli dari bukunya mbak Nandra pemilik katering anak bebitang yang kece tapi sudah saya modifikasi dengan bahan seadanya di kulkas

Bola-bola nasi (untuk usia 1th+)
Bahan:
1 potong daging (seukuran genggaman bayi) cincang halus
5 batang buncis baby, iris tipis
3 kuntum brokoli, cincang
1 siung bawang putih, cincang halus
1/2 bawang bombay, cincang halus
2 sdm terigu
3 sdm butter (atau margarin)
70ml susu uht plain
30g keju parut
70g nasi putih

Cara membuat:
1. Kukus daging, buncis dan brokoli hingga matang
2. Panaskan butter, tumis bawang putih dan bombay hingga harum
3. Masukkan terigu, aduk cepat
4. Masukkan susu uht, keju, daging dan sayur, aduk rata
5. Masukkan nasi, aduk hingga kalis, angkat
6. Setelah dingin, bentuk bulat-bulat
Taraaa... inilah hasilnya (^-^)d


Di resep aslinya, bahannya pakai ayam, buncis dan wortel, jadi warna matengnya bagus, ga kayak punya saya *ngeless
Trus aslinya dibuletin segede bola pingpong, tapi kalo saya bentuknya segede kelereng karena biar pas seukuran suapan Farhan yang suka irit buka mulutnya ˆ⌣ˆ , tapinya lagi lumayan bosen juga loh bulet-buletin kecil gini (¯―¯٥)

Yakk demikian, selamat makann, semoga lahap hap hap hap

Tuesday, May 29, 2012

Dealing with ventriculomegaly

Kehamilan adalah anugerah, maka sudah sepantasnya kita menyambut dengan gembira, menjaga sepenuh hati, dan menjalani dengan bahagaia namun tetap berhati-hati..
Seperti itulah kurang lebih gambaran perasaan saya pas hamil kurang lebih setahun yang lalu. Bahagia meluap-luap, selalu tidak sabar menunggu saat kontrol ke dsog untuk mengetahui perkembangan baby di perut, udah segede apa yaaa

Di sekitar pertengahan usia kehamilan, saya melakukan tes torch di dsog dekat rumah, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ semua aman. Lega.
Seminggu kemudian, saya harus terbang lagi ke Mojokerto karena kakak akan naik haji. Untuk keamanan dan ketenangan hati saya, saya minta surat persetujuan terbang dari dsog, baik di Mojokerto maupun di Jakarta.

Ketika kontrol di Mojokerto, tak terdeskripsikan rasanya ketika dsog menyampaikan ada masalah di kandungan saya. Beliau bilang di kepala baby ada pelebaran pembuluh darah, resiko terbesar adalah hydrocephalus. Astaghfirullah..
Beliau menyarankan untuk periksa ke dsog ahli usg di surabaya untuk mengetahui detailnya, dan tak lupa menenangkan hati saya

Sambil menunggu jadwal konsul dg Prof Erry Gumilar (nama dsog yg direkomendasikan), saya ga berhenti mikir, how come? Semua terlalu mendadak, bahkan saya sampai ga bisa nangis saking khawatirnya.. Seminggu yang lalu saya baru konsul dg dsog di Jakarta, bahkan tes torch, dan hasilnya bagus.. Kalau memang ada kelainan mestinya sudah terdeteksi *sambil berharap dokter salah usg

Setelah bertemu Prof Erry, beliau meyakinkan bahwa janin saya mengalami ventriculomegaly, pelebaran ventrikel kepala. Ga tanggung-tanggung, dengan jenis severe (lumayan gede) dan bilateral (kanan kiri), nothing to do, hanya bisa berdoa dan terus dikontrol. Beliau menenangkan bahwa kasus seperti ini bisa hilang sendiri, namun bayang-bayang hydrocephalus tetap ada kalau pelebarannya progresif. Untuk selanjutnya, karena saya tinggal di jakarta, kontrol akan dirujuk ke dr.Azen, ahli usg juga

Di Jakarta, saya tinggal cuma berdua hubby (dan 2 ekor kucing :D)  jadi semuanya saya lakukan sendiri, keluarga besar hanya support by phone. Dr.Azen juga sependapat dengan prof. Erry, tidak ada tindakan yang bisa dilakukan selama bayi baru lahir. Beliau hanya bisa membantu kontrol dan membekali saya 5 butir antivirus (jaga2 siapa tau kehamilan saya terinfeksi)

Sisa kehamilan saya jalani dengan perasaan was was namun (harus) tetap tenang agar kandungan tetap sehat (ibu hamil dilarang stres)
3 minggu sekali saya kontrol ke dr.Azen (daftarnya harus jauh hari nih dokternya) dan saya memutuskan untuk berhenti kontrol ke dsog dekat rumah tempat saya periksa 5 bulan sebelumnya karena merasa beliau gagal mendeteksi kelainan pada janin saya (beliau berbesar hati mengaku tidak bisa membaca hasil usg dengan akurat). Karena dr.Azen hanya fokus memantau kelainan janin, saya juga konsul ke spog lain untuk memantau kondisi saya, dan pilihan jatuh pada dr.Ahmad Mediana

Di jalur non medis, selain tak putus memanjatkan doa selepas shalat, saya berikhtiar dengan selalu minum air zam zam sebagai pengganti air putih (tak lupa berdoa menyampaikan maksud saya sebelum minum). Di mojokerto, mami memanggil pengajian, khataman dan meminta doa dari para Kyai yang salah satunya memberi saya amalan dzikir yang dibaca selepas shalat sambil mengusap perut. Kemudian saya juga rutin menghadiri pengajian ustadz Yusuf Mansyur (kala itu masih di MNCTV) yang kebetulan ada satu episod khusus untuk ibu hamil, para ibu hamil diundang dan berdoa bersama. Subhanallah rasanya nyamaan sekali..

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ di akhir kehamilan, Allah menjawab segala doa saya, ventrikel bayi tidak progresif, walaupun tidak hilang juga.. (cerita lengkap saat melahirkan saya tulis nanti yaa)
Bayi saya dinyatakan sehat dengan apgar 9, walaupun masih harus terus dipantau pertumbuhan dan perkembangannya, tapi syukur tiada terkira sampai saat ini (usia 15 bulan) sangat sehat dan sedang aktif-aktifnya berjalan
Sehat dan ceria di usia 5 bulan :)

Dari pengalaman kehamilan pertama ini, saya mendapatkan banyak hikmah. Terutama bahwa "semua dari Allah, kembali ke Allah", apapun bisa terjadi dengan kehendak Allah.. Jangan berhenti meminta, ikhlas dan bersabar hingga Allah memberi jawaban terbaik

Note: tentang ventrikulomegali bisa dibaca di sini,  di sini dan juga di sini