Pada saat hamil, saya masih kuliah, errr lebih tepatnya menyelesaikan skripsi, dan kehamilan merupakan motivasi terbesar saya untuk ngebut karena saya ga rela ketika baby lahir pikiran saya terbagi dengan skripsi, ehehehe..
Skripsi pulalah yang membuat saya harus bolak balik jakarta-malang, baik naik pesawat maupun KA. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ baby kuat, skripsi pun selesai, dan saya diwisuda pada usia kehamilan 7bulan (з´⌣`ε)
Di jakarta saya hanya berdua suami, keluarga dengan lokasi terdekat adalah tante di bandung, jadi kami putuskan untuk melahirkan di sana
Seminggu sebelum melahirkan, saya sudah "standby" di rumah tante, dg memboyong semua perlengkapan newborn. Saya akan menjalani sc (sectio caesaria a.k.a operasi caesar) terjadwal. Alasannya ada 2, yg pertama adalah suspect ventriculomegaly janin saya (cerita lengkapnya di sini) dan yg kedua adalah saya menderita miopi lumayan tinggi (di atas minus 8, tp lupa angka persisnya ^^). Ventriculomegaly dikhawatirkan membuat kepala janin tidak muat di jalan lahir, dan miopi yg tinggi membuat mata saya dikhawatirkan terjadi ablatio ketika mengejan, dg resiko terbesar kebutaan :(
Sebenarnya mendekati hari kelahiran, dsog rujukan di bandung *dr. Udin Sabarudin yg benar2 sabar :) menyatakan saya boleh melahirkan (partus) normal, kepala janin normal, dan resiko ablatio bukanlah suatu hal yg mutlak a.k.a bisa saja tidak terjadi walaupun minus saya tinggi
Tapi dari pihak keluarga tidak memberi restu partus normal, terutama suami, katanya kebutaan cukup mengerikan untuk dipertaruhkan :( dan sejujurnya saya jg tidak siap untuk partus normal karna dari awal sudah di"sounding" harus partus sc, jd saya tidak membekali diri dg rajin senam hamil maupun jalan pagi, hehehehe jangan ditiru yaa
Jadwal operasi saya adalah hari jumat, 11 februari 2011. Suami baru berangkat ke bandung tgl 9 malam. Pukul 01.00 dini hari, suami telfon. As usual, saya pikir dia minta dibukakan pagar. Ternyata tidak. Dg suara panik, dia blg mengalami kecelakaan di gerbang tol pasteur dan minta dijemput! Ya Allah, deg-degan tak terkira.
Berdua tante, saya menjemput di lokasi kecelakaan.. اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ mobil hancur hampir 80% tp الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ suami (dan kucing) selamat..
Keluarga tak henti-henti memberikan semangat.. Dan saya berusaha tak memikirkannya mengingat besok saya harus sudah masuk rumah sakit, yang penting semua selamat, begitu pikir saya
Hari kamis sore, saya di rumah sakit. Sudah menjalani tes darah, jantung dll layaknya operasi besar. Dan malamnya saya tidur sangat nyenyak :)
Hari jumat subuh, saya sudah mulai puasa karena operasi terjadwal setelah shalat jumat. Pukul 12.00 saya masuk ruang operasi. Suami, mami dan tante memberi semangat dan doa sebelumnya, sayang sekali suami tidak diijinkan merekam walaupun kita sudah ready dg handycam
Saya dibaringkan di tengah ruangan dg lampu bundar besar di tengah, persis di film-film :) musik lembut mengalun. Dokter anestesi meminta saya membentuk tubuh bungkuk posisi udang, dan obat bius disuntikkan. Tak lama kemudian bagian ulu hati ke bawah mati rasa. Dokter mulai menyayat. Saya mengamati semua proses dari pantulan kap lampu di atas saya, tidak ada ketakutan. Yang ada cuma rasa tidak sabar bertemu bayi saya, sehatkah dia?
10 menit kemudian, perut saya didorong-dorong, lalu terdengar tangisan bayi. Dokter anestesi di atas kepala saya bilang "selamat ya bu, anaknya laki-laki, sehat" saya tersenyum lalu bertanya "kepalanya bagaimana dok?" tapi tidak ada yg menjawab. Saya juga tidak diijinkan melakukan IMD (inisiasi menyusui dini) karena dokter anak harus segera memeriksa kondisi bayi :( jadi saya menjalani 40menit di ruang operasi, menunggu dokter selesai menutup rahim dan perut saya dg perasaan masih cemas. I haven't seen my baby yet :'(
Keluar dari ruang operasi, saya dipindah ke ruang pemulihan. Sekitar 2 jam saya di sana. Mendadak tubuh menggigil hebat.. Bergetar suara saya memanggil perawat yang bergegas menyuntikkan sesuatu, entah apa. Cukup lama saya menggigil hingga reda dan perlahan bagian tubuh yg mati rasa pulih, nyeri mulai datang. Saya haus sekali. Saya memanggil perawat untuk minta air, tidak diijinkan karena pengaruh bius belum hilang total. Untungnya ada seorang dokter yg baik memberi saya minum, tp berulangkali diingatkan pelan-pelan saja agar tidak muntah.
Keluar dari ruang pemulihan, suami menunggu. Kami segera kembali ke kamar. Saya tanyakan kondisi bayi kami, dia hanya bilang "sehat, nanti adek lihat sendiri yaa" sama sekali tidak menenangkan :)
Di kamar, perut saya lapar sekali. Tidak ada bubur atau apapun disiapkan petugas gizi. Jadi saya minta suami beli nasi goreng, padahal sebagai ahli gizi, saya tahu bahwa post op harusnya saya "hanya" makan bubur halus dulu, tapi lapar mengalahkan segalanya hahahahaha.. Untung tidak muntah :)
Saya segera minta bayi dibawa ke kamar. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ bayi mungil itu ternyata sehat, tak kurang suatu apapun. Dengan berat lahir 3530 gram, panjang 50.3 cm, kami beri nama dia Farhan Muhammad Rafirly
![]() |
| Welcome, Farhan! :) |
Malam itu, nyeri di perut terasa hebat.. Suami dengan sabar memenuhi semua kebutuhan saya (っ˘з(˘⌣˘ ) hingga esok paginya perawat mengatakan saya baru boleh menyusui dan membawa bayi sekamar jika saya sudah bisa berjalan. Nyeri luar biasa tak saya rasakan, saya paksa belajar jalan demi cepat menyusui, saya tak rela baby Farhan berlama-lama minum susu kaleng.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ di hari minggu saya sudah lancar berjalan, baby juga langsung pintar menyusu, jadi senin pagi saya sudah bisa pulang
°\(^▿^)/°
Melahirkan itu perjuangan, baik normal maupun operasi, tetap mempertaruhkan nyawa.. Dan untuk hebatnya rasa sakit yang kita rasakan, kita pantas dipanggil ibu ˆ⌣ˆ


.jpg)
.jpg)